Layover di Narita Jepang

Sedikit ingin berbagi pengalaman akhir tahun 2013 lalu. Cukup lama memang, tapi semoga masih relevan untuk disampaikan hari ini.

Kala itu adalah kali pertama saya menginjakkan kaki ke negeri sakura, Jepang. Pengalaman itu bisa dikatakan sebagai suatu ketidaksengajaan, karena memang Jepang bukan tujuan akhir perjalanan saya kala itu. Lebih tepatnya, saya hanya menghabiskan waktu seharian penuh ketika layover / transit penerbangan dari tujuan ke Amerika Serikat.

Perjalanan diawali dari Surabaya SUB ke CGK Jakarta, untuk pindah ke penerbangan ANA NH938 dari Jakarta ke Narita. Sedikit pengalaman sekaligus menjadi tips, pastikan waktu transit cukup dan tidak membuat Anda terburu-buru. Hitung juga waktu kemungkinan delay hingga estimasi waktu baggage claim dan check-in untuk penerbangan selanjutnya. Mengapa? Karena di penerbangan ini, tiket yang dipesankan oleh travel agent memberikan waktu transit di Jakarta yang sangat mepet. Bayangkan, hanya 85 menit, dikurangi delay keberangkatan 30 menit dari Surabaya, waktu klaim bagasi dan check-in 20 menit, petugas imigrasi yang terlalu lama 'menginterogasi' saya (seperti seakan tidak begitu percaya bahwa saya mau ke amerika), dan tentunya, 20 menit boarding sebelum keberangkatan ke Jepang. Akibatnya, saya harus berlarian di bandara Soetta karena nama saya sudah dipanggil-panggil untuk boarding.

Setelah kurang lebih tujuh setengah jam perjalanan dari Jakarta ke Narita (9:25 malam WIB sampai 7:00 pagi waktu Narita), saya menginjakkan kaki pertama kali di Jepang. Kesan pertama ketika turun dari pesawat adalah bahwa bandara sebesar Narita saja bisa begitu tenang, dan semua tertata rapi.

Satu lagi, pastikan Anda sudah mempunyai visa yang sesuai sebelum mendarat di Jepang, sekalipun itu hanya untuk transit. Saya memang sudah menyiapkan visa transit Jepang, supaya bisa jalan-jalan keluar bandara. Kalau Anda tidak punya visa jepang, tentunya harus ngantuk-ngantukan di Narita. Informasi visa jepang bisa dilihat disini.

Nah, sekalipun Anda tidak punya visa untuk keluar bandara, saya rasa Anda tidak akan bosan menikmati "Jepang di dalam bandara" yang ada di Bandara Narita. Narita airport memang begitu besar, ada banyak tempat istirahat, makan, oleh-oleh, suvenir, bahkan hiburan untuk anak kecil hingga dewasa. Kalau Anda pernah ke Changi Singapura, kurang lebih sama seperti itu lah. Seperti kita ketahui, Narita memang banyak dikatakan sebagai gerbang dari dan menuju Asia, karena saking banyaknya penumpang transit di bandara ini.

Kalau Anda punya waktu (dan tentunya punya visa) seperti saya, sempatkan jalan-jalan sejenak di sekitar bandara. Kalau saya sih, punya waktu sekitar sepuluh jam yang saya habiskan mengunjungi Naritasan Shinshoji Temple dan kawasan sekitarnya. Mengenai transportasi, tak ada masalah. Transportasi publik disana begitu nyaman dan bisa diandalkan. Untuk menuju kawasan ini, Anda hanya perlu naik JR Line (kalau tidak salah sekitar 250 yen, kurang lebih 25000 rupiah) menuju Narita Station dengan waktu tempuh kurang lebih sepuluh menit. Selepas dari Narita Station, Anda hanya perlu mengikuti papan petunjuk ke arah Naritasan Temple. Kalau tidak salah sih, tinggal jalan kaki ke arah utara sekitar 15 menit, tepatnya, kalau keluar dari stasiun langsung belok kiri. :D

Nah, ada sedikit tips kalau berkunjung ke Jepang, sekalipun hanya transit sebentar. Pastikan Anda mengerti beberapa kosakata dasar bahasa Jepang. Minimal angka jepang dan pertanyaan dasar. Seperti kata banyak orang, tidak banyak orang Jepang yang berbahasa inggris. Jangan juga Anda terlalu mengandalkan google translate. Pengalaman saya, saya pernah menggunakan google translate ketika melakukan tawar menawar membeli oleh-oleh di luar bandara, dan ternyata si penjual pun tidak paham dengan apa yang tertulis di google translate. Minimal, untuk urusan tawar menawar, hafalkan saja angka-angka dalam bahasa Jepang, itung-itung buat belajar. :D

Satu lagi, jangan pernah bertanya "Do you speak english?" untuk memulai pembicaraan. Mereka sebagian besar akan menjawab tidak dan langsung pergi menjauh, sekalipun mereka dapat sedikit berbahasa inggris. Misal, kalau Anda ingin bertanya letak Naritasan Temple, langsung saja bertanya "Where is Naritasan Shinshoji Temple?". Mereka akan menunjukkan arahnya sekalipun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Trust me, it works. ;)

[gallery ids="87,88,89,92,90,91,94,93,96,95,97,98"]

Written on January 30, 2015