Salah Kaprah Jejaring Sosial di Indonesia

Kembali, ini adalah pendapat personal, bukan bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu, atau menimbulkan kemudharatan lainnya.

Beberapa saat yang lalu, saya memutuskan untuk hengkang dari beberapa jerjaring sosial yang sebelumnya saya gunakan. Memang, tidak semuanya saya bumi-hangus-kan, akun-akun yang saya musnahkan adalah akun-akun di jejaring sosial yang saya rasa tidak memberikan kemanfaatan, malah justru memberikan kemudharatan, setidaknya bagi diri saya pribadi.

Kalau sekilas diamati, masyarakat kita begitu sering bergonta-ganti jejaring sosial. Masih jelas teringat ketika Friendster nyaris selalu meramaikan warnet-warnet pada tahun 2000-an. Masih begitu jelas teringat bahwa melalui Friendster itulah ternyata saya, secara tidak sadar, berkenalan dengan CSS untuk memodifikasi tampilan profil Friendster saya. Perlahan tapi pasti, Facebook datang dengan berbagai fitur barunya, masyarakat pun beralih ke jejaring sosial yang masih aktif digunakan sampai saat ini. Twitter pun sebenarnya sudah ada sejak lama, tidak jauh berbeda dari Facebook. Hanya saja, tren peningkatan pengguna Twitter masih kalah cepat dibandingkan dengan Facebook. Belakangan, ada Path, ada juga timeline di LINE, ada juga status update di BBM, yang keduanya juga bisa menjadi platform untuk micro blogging,

Sekarang coba kita amati bersama. Friendster, sudah beralih menjadi portal game. Facebook juga sempat kehilangan pengguna di Indonesia karena Twitter. Sekarang, Twitter semakin sepi dari kicauan penggunanya. Coba login ke halaman Twitter Anda, paling-paling kebanyakan yang muncul di timeline adalah kicauan dari akun-akun berita, olahraga, dan sebagainya. Ibaratnya, bisa kita tebak, mungkin Path pun akan sepi sebentar lagi, kan?

Ada satu hal yang saya rasa salah di masyarakat kita dalam memanfaatkan jejaring sosial. Seakan, bagi kami, masyarakat, jejaring sosial adalah tempat dimana kita dapat membagikan semua hal kepada semua kenalan kita. Suka, duka, senang, sedih, jalan-jalan, tangisan, sanjungan, keluhan, ayat-ayat Quran, sampai bahkan hinaan ke teman, semuanya ada. Lengkap.

Memang, jejaring sosial memberikan berbagai fitur. Ibarat mata pisau, kalau kita menggunakannya dengan bijak, ya inshaallah akan bermanfaat, pun juga sebaliknya.

Bagikanlah berbagai hal yang bermanfaat bagi orang lain. Dan jangan lupa, bagikanlah hanya ke orang yang tepat, bagikan ke orang yang Anda rasa perlu, pantas, dan akan dengan berbahagia menerima sharing dari akun Anda. Bagikanlah tips-tips menjaga diri, bukannya membagikan “Sleeping in Malang”. Siapa peduli dengan aktifitas tidur Anda, ya kan? Bagikanlah cerita-cerita inspiratif, bukannya membagikan keluhan, omelan, sindiran, dan cacian terhadap teman Anda. Mbak, mas, mohon maaf, post Anda itu dibaca semua orang, dan tidak semua orang berbahagia dengan berbagai post yang tidak bermanfaat dari Anda. Ada sebagian orang yang enggan membacanya, tapi lha wong muncul di timeline, kan.

Kedua, jangan sampai jejaring sosial membuat Anda kecanduan, bahkan mempengaruhi kinerja dan produktifitas Anda. Apa manfaatnya dengan scroll-scroll pada timeline yang isinya adalah ghibah, sikap riya’, dan post yang kurang bermanfaat? Bukankah lebih baik jika kita memanfaatkan waktu dengan lebih produktif? Siapa tahu, Anda justru bisa lebih produktif dan bisa membuat jejaring sosial yang lebih ideal? Produktif, kan?

Hanya sekedar mengingatkan, terutama pada diri saya sendiri, mari membudayakan untuk membagikan tulisan, gambar, video, atau apapun yang memberikan kemanfaatan kepada sesama dan hindarkan dari segala bentuk kemudharatan dari berbagai aktifitas di jejaring sosial. Semoga mencerahkan. :)

Leave a Reply