Kenyamanan dan Kebaikan

Kita sering dihadapkan pada situasi dimana benar dan salah seakan tersamarkan. Seringkali, kita terbuai dalam “kenyamanan” dalam keburukan.

Idealnya, kita tidak semestinya merasa nyaman ketika melakukan kemaksiatan. Namun kenyataanya justru sebaliknya. Seringkali kita merasa bahwa kemaksiatan yang kita lakukan adalah hal yang “biasa saja”. Mungkin saja, di tengah perjalanannya, kita akan tersadar dan ada keinginan untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut. Lagi-lagi, seringkali kita tergoda “kenyamanan” yang membuat seolah-olah membuat kemaksiatan menjadi perbuatan yang sah untuk dilakukan, bahkan dianggap sebagai perbuatan yang baik. Astaghfirullah..

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Robb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Kekuatan menahan diri adalah kuncinya. Menahan diri untuk bersabar dan berusaha untuk senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik. Satu lagi, jangan lupa untuk mensyukuri segala apapun nikmat yang telah dimiliki. Dengan demikian, kita tak akan tergoda dengan “kenikmatan yang salah”.

Semoga Allah selalu melindungi kita.

Leave a Reply