Arch Linux

Beralih ke Arch Linux

Hari-hari ini adalah hari yang berlalu cukup berat bagi saya (a bit too much!), karena saya memutuskan untuk meng-install Arch Linux demi masa depan (a bit more!). Selama lima tahun terakhir, saya menghabiskan waktu bersama Linux Mint dengan berbagai wujudnya. Semua komputer saya selama ini berjalan dengan Linux Mint.

Baru kemarin, saya memutuskan untuk melakukan fresh installation Arch Linux ke laptop Thinkpad, sementara komputer lainnya masih berjalan dengan Linux Mint. Yah, hanya untuk jaga-jaga kalau ada masalah dengan instalasi Arch Linux, setidaknya saya masih punya cadangan komputer lain.

Biasanya, seorang pengguna Linux akan setia dengan distribusi Linux yang ia pakai. Di sisi lain, kami juga seringkali tergoda dengan distro-distro lain yang lebih ‘wah’ dan menggoda. Ingin rasanya mencoba seluruh distro yang ada. Begitu pun dengan saya. Saya memang setia dengan Linux Mint, hanya saja saya begitu tergoda dengan simplicity yang dielu-elukan oleh Arch Linux.

Arch Linux pada dasarnya tidak ditujukan sebagai first distro bagi siapapun yang ingin beralih ke Linux. Arch Linux memang ditujukan kepada pengguna Linux yang sudah terbiasa dengan Linux dan sedikit banyak familiar dengan command line interface. Mengapa? Karena base installation Arch Linux begitu sederhana, hanya paket-paket utama yang tersedia. Sisanya, Anda harus melakukan instalasi sendiri! Tapi ini bukan berarti bahwa Arch Linux tidak cocok bagi pengguna baru Linux, lho. Tapi mungkin Anda akan sedikit kesulitan dalam penggunaannya pertama kali. Jangan heran ketika Anda hanya menemukan command line interface ketika telah berhasil melakukan instalasi. Jangankan desktop environment (tampilan grafis pada komputer Linux), Anda pun bahkan harus melakukan konfigurasi manual untuk bisa terhubung ke internet atau wifi. Padahal, untuk melakukan instalasi packages, Anda membutuhkan koneksi internet (kecuali Anda ingin meng-compile sendiri :D).

Lalu mengapa para Archers (julukan bagi para pengguna Arch Linux) memutuskan untuk menggunakan distro ini? Lha wong ribet, angel. Bukankah lebih enak kalau kita menggunakan distro-distro lain yang siap pakai? Arch Linux menawarkan simplicity, dengan tujuan agar komputer Anda berjalan dengan performa terbaik dan sesuai kebutuhan Anda. Jadi, kalau Anda bukan desainer grafis, Anda tidak perlu menghabiskan space komputer untuk aplikasi grafis. Kalau Anda tidak perlu aplikasi perkantoran, Anda juga tidak perlu melakukan instalasi program-program tersebut. Anda hanya perlu melakukan instalasi program yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Jadi, tergoda Arch Linux juga? Yuk! ;)

Leave a Reply